Posts

Showing posts from October, 2025

So Blue, Perasaan Orang Depresi Menjalankan Hari

Image
  Depresi di kalangan remaja bukan lagi hal yang jarang kita dengar. Banyak siswa datang ke sekolah dengan wajah biasa saja, tapi menyimpan perasaan berat di dalam hati. Mereka tertawa, bercanda, mengikuti pelajaran, namun di balik itu semua, ada yang sedang berjuang untuk sekadar bertahan. So blue  sering dipakai untuk menggambarkan kesedihan yang dalam, dan itulah yang banyak remaja rasakan ketika dunia di sekitarnya terasa terlalu sunyi untuk dimengerti. Depresi bukan hanya tentang merasa sedih. Ini adalah kondisi ketika seseorang kehilangan semangat hidup, merasa hampa, atau tidak lagi menikmati hal-hal yang dulu membuat bahagia. Dalam psikologi, depresi dipahami sebagai gangguan suasana hati yang memengaruhi cara berpikir, merasa, dan bertindak. Artinya, ini bukan kelemahan pribadi, tetapi kondisi yang perlu dipahami dengan empati. Sigmund Freud pernah berkata, “Depresi adalah kemarahan yang berbalik ke dalam diri sendiri.” Maka, sering kali remaja yang depresi bukan tid...

Sekolah Ramah Anak, Tapi Apakah Sudah Ramah Mental?

Image
Setiap kali mendengar istilah “sekolah ramah anak,” yang terbayang di benak saya adalah tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik. Tapi semakin saya perhatikan, konsep itu sering kali hanya berhenti di spanduk, slogan, dan dokumentasi kegiatan seremonial. Sekolah memang tampak ramah di permukaan, ada taman hijau, ruang bermain, dan program anti-bullying, namun sayangnya belum tentu benar-benar ramah bagi mental anak-anak yang tumbuh di dalamnya. Banyak sekolah hari ini sibuk membangun citra ramah anak, tapi lupa bahwa ramah tidak bisa diukur dari fasilitas fisik semata. Sekolah bisa punya lapangan luas dan dinding berwarna putih atau pastel, tetapi jika suasananya penuh tekanan, bentakan, dan rasa takut, apa itu masih bisa disebut ramah? Ramah mental bukan soal dekorasi ruang, melainkan tentang bagaimana siswa diperlakukan ketika mereka lelah, sedih, atau sedang tidak baik-baik saja. Masalahnya, banyak guru masih memandang isu kesehatan mental sebagai hal sepele, b...

Guru Hebat, Tapi Tak Peka (Ketika Masalah Mental Siswa Dianggap Tidak Pernah Ada)

Image
Di banyak sekolah, kita sering mendengar kalimat seperti, “Anak itu cuma kurang disiplin,” atau “Dia terlalu manja, makanya gampang stres.” Kalimat-kalimat seperti itu terdengar sederhana, tapi sesungguhnya mencerminkan betapa dangkalnya pemahaman sebagian guru terhadap isu kesehatan mental. Mereka mungkin hebat dalam mengajar rumus, menjelaskan teori, atau menegakkan disiplin, tapi tidak semua hebat dalam memahami sisi manusiawi dari seorang anak didik. Sekolah sering disebut sebagai “rumah kedua”, namun bagi sebagian siswa, justru menjadi tempat penuh tekanan. Tekanan dari nilai, ekspektasi guru, tuntutan orang tua, hingga perundungan dari teman sebaya. Ironisnya, banyak guru yang masih memandang masalah mental siswa sebagai bentuk pembangkangan, bukan panggilan untuk dipahami. Siswa yang murung dianggap pemalas. Siswa yang tidak fokus disebut tak punya niat belajar. Siswa yang menangis di kelas dianggap lemah. Padahal, bisa jadi ia sedang berjuang melawan kecemasan yang tak terli...

Manipol USDEK

Image
Apa itu Manipol USDEK? Manipol USDEK adalah singkatan dari Manifesto Politik Republik Indonesia UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia. Istilah ini merupakan pedoman ideologis dan politik negara Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, khususnya pada era Demokrasi Terpimpin (1959–1966).  Manipol USDEK dijadikan garis besar haluan negara (GBHN)  dan menjadi dasar bagi semua kebijakan pemerintahan, termasuk dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial. Dimana dan Kapan Manipol USDEK dicetuskan? Manipol USDEK dicetuskan di Jakarta pada  17 Agustus 1959, saat Presiden Sukarno menyampaikan pidato kenegaraan berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita yang kemudian menjadi dasar bagi doktrin politik negara Indonesia di era Demokrasi Terpimpin. Mengapa Manipol USDEK dicetuskan? Kegagalan sistem Demokrasi Liberal (1950–1959) yang dianggap tidak cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia sehingga menyebabkan ketida...

Lulus Sarjana Berharap Mudah Mendapatkan Pekerjaan, Tapi Ternyata Salah

Image
  Sejak awal menempuh pendidikan tinggi, banyak mahasiswa yang meyakini bahwa gelar sarjana merupakan kunci menuju kehidupan yang mapan. Keyakinan ini seolah telah menjadi dogma sosial: semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar peluangnya memperoleh pekerjaan yang layak. Namun, realitas setelah wisuda sering kali jauh dari harapan. Di balik toga dan ijazah yang dibanggakan, banyak lulusan justru dihadapkan pada kenyataan pahit, sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi akademik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 4,76 persen, dengan jumlah pengangguran sekitar 7,28 juta orang. Menariknya, lulusan perguruan tinggi justru menjadi kelompok yang cukup rentan terhadap pengangguran, dengan persentase mencapai 13,89 persen (Mediana, 2025). Menariknya, kelompok lulusan perguruan tinggi (diploma IV hingga S-3) memiliki tingkat pengangguran mencapai 13,89 %  (Mediana, 2025a)...

Berani Menolak!

Image
Ada masa di hidupku ketika aku berpikir bahwa berkata “tidak” adalah bentuk keegoisan. Aku sering memaksakan diri untuk setuju, untuk menerima, bahkan untuk tersenyum pada sesuatu yang sebetulnya tidak aku inginkan. Lama-lama aku sadar, menolak bukan berarti jahat. Menolak adalah cara kita menghormati diri sendiri. Tidak semua permintaan harus diterima, tidak semua ajakan harus diiyakan, dan tidak semua hal yang terlihat baik di mata orang lain, cocok untuk kita jalani. Ada kalanya menolak adalah bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri, cara paling jujur untuk menjaga kewarasan dan batas pribadi. Dunia sering memuji mereka yang selalu “bisa”, padahal ada keberanian lain yang tak kalah mulia: keberanian untuk bilang “tidak”. Aku belajar bahwa hidup bukan tentang menyenangkan semua orang. Ada ruang dalam diri yang harus dijaga agar tidak sesak oleh ekspektasi orang lain. Dan menolak bukan berarti membenci, tapi tahu mana yang pantas kita terima dan mana yang seharusnya kita lepaskan....

Bunuh Diri Bukan Lemah, Tapi Bukti Betapa Kejamnya Dunia

Image
Kadang kita berpikir bahwa seseorang memilih mengakhiri hidupnya karena kelemahan karena tak mampu bertahan. Tetapi jika kita menoleh lebih jauh, kita akan menemukan bahwa keputusan itu sering muncul bukan dari satu momen, melainkan dari akumulasi rasa sakit, penjajahan emosi, dan perundungan yang tak terlihat namun sangat nyata. Baru-baru ini sebuah kisah muncul seorang mahasiswa ditemukan meninggal dengan dugaan bunuh diri setelah mengalami perundungan terus-menerus dari sekitarnya. Bayangkan, seseorang yang tampak “baik-baik saja” di depan teman-teman, menjalani rutinitas kuliah seperti orang lain, tapi dalam diam setiap ejekan, sindiran, dan tangkapan layar yang menyebar memukulnya secara perlahan. Dia bukan hanya ‘menghindar’ dari hidup, dia sedang terluka dalam, dan kemudian memutuskan untuk berhenti bertahan. Ini bukan soal kelemahan pribadi. Ini soal sistem sosial yang gagal menjaga satu orang, soal budaya yang sering menganggap “ini cuma guyonan” dan tidak memeriksa ketika lel...

Jika Siswa Merokok di Sekolah

Image
Merokok di lingkungan sekolah bukanlah isu sepele. Tindakan ini tidak hanya melanggar tata tertib, tetapi juga mencerminkan krisis kepatuhan terhadap norma-norma pendidikan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap peserta didik. Ketika seorang siswa secara terang-terangan melanggar aturan dengan merokok di sekolah, maka sebetulnya ia sedang menantang otoritas institusi pendidikan itu sendiri. Hal ini, dalam pandangan saya, tidak boleh dianggap remeh, apalagi jika pembelaan terhadap pelanggar justru datang dari sesama siswa, bahkan dari orang tua. Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah kasus yang menyita perhatian publik, seorang siswa ketahuan merokok di lingkungan sekolah, kemudian dikenai sanksi. Tindakan kepala sekolah dalam menanggapi pelanggaran itu menuai pro-kontra. Ada yang menilai tindakan tersebut terlalu keras, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk penegakan disiplin yang sah. Yang menarik untuk dikaji adalah bagaimana reaksi publik, termasuk siswa lain yang...

Didiklah Anakmu Sesuai dengan Zamannya!

Image
Perkataan Ali bin Abi Thalib r.a. tentang mendidik anak sesuai dengan zamannya, Addibū aulādakum lizamānin ghayri zamānikum Artinya: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu.” Ungkapan ini sering dijadikan dasar refleksi dalam dunia pendidikan dan parenting Islam. Pesan utamanya adalah bahwa metode, pendekatan, dan cara kita mendidik harus menyesuaikan dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan spiritual yang diajarkan agama. Kadang, aku tersenyum kecil setiap kali mendengar orang tua berkata, “Zaman dulu kami nggak begini, kok anak sekarang manja sekali.” Ucapan itu terdengar akrab di telinga, tapi jujur saja, setiap kali mendengarnya, aku merasa ada yang kurang pas. Sebab dunia yang kita tempati kini sudah jauh berbeda dari dunia ketika orang tua kita tumbuh. Anak-anak kita lahir di era serba cepat, serba digital, dan serba terbuka, mereka menyerap informasi lebih banyak dari layar ketimbang dari b...

Jangan Bandingkan Anakmu dengan Anak Orang Lain!

Image
Aku masih ingat jelas, suatu siang setelah pembagian rapor, aku pulang dengan nilai yang tidak seberapa membanggakan. Di kepalaku sudah muncul bayangan omelan, seperti yang sering kudengar dari teman-temanku tentang orang tua mereka. Tapi sesampainya di rumah, ibu hanya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah berusaha. Kami tetap bangga.” Kalimat itu menenangkan, hangat, dan membuat dadaku lega. Sejak saat itu, aku tahu aku boleh gagal, tapi aku tidak akan pernah kehilangan cinta mereka. Aku tumbuh di rumah yang hangat, bukan karena segalanya selalu berjalan mulus, tapi karena orang tuaku tahu cara mencintai tanpa syarat. Seingatku, tak pernah sekalipun mereka membandingkan aku dengan anak tetangga, sepupu, atau siapa pun. Tidak ada kalimat seperti, “Lihat tuh, anak orang lain sudah begini, sudah begitu.” Yang ada justru pujian sederhana: “Kami bangga sama kamu.” Kalimat itu mungkin terdengar biasa, tapi bagiku, ia adalah pondasi yang membentuk kepercayaan dir...

Sidang Dewan Konstituante, Menyelami Perdebatan antara Dasar Negara Islam dan Dasar Negara Pancasila

Image
Beberapa waktu lalu, saya mencoba menyelami kembali sejarah sidang Dewan Konstituante salah satu momen paling menentukan arah ideologis bangsa Indonesia pasca-kemerdekaan. Yang menarik, sekaligus penuh ketegangan, adalah perdebatan panjang soal dasar negara, apakah Indonesia seharusnya berlandaskan Islam atau tetap berpegang pada Pancasila seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Diskusi ini bukan hanya soal simbol, tapi menyentuh akar nilai-nilai hidup berbangsa yang hingga kini masih sering jadi bahan perdebatan. Sidang-sidang Konstituante yang berlangsung dari 1957 hingga 1959 memperlihatkan betapa tajamnya perbedaan pandangan antar partai politik kala itu. Di kubu pendukung dasar negara Islam, ada Masyumi dan Nahdlatul Ulama (NU). Mereka percaya bahwa sebagai negara dengan mayoritas Muslim, Indonesia seharusnya menjadikan Islam sebagai sumber utama hukum dan nilai dalam bernegara. Argumen mereka bukan tanpa dasar Islam, bagi mereka, tak hanya agama pribadi, tetapi juga sist...

Ilmu dan Amal / Geest wil daad - Ir. Sukarno

Image
Pada tanggal 19 September 1951, di hadapan civitas academica Universitas Gadjah Mada, Ir. Sukarno menyampaikan pidato yang begitu menggugah saat menerima gelar kehormatan Doctor Honoris Causa. Judul pidatonya sederhana namun dalam maknanya: "Ilmu dan Amal" , atau dalam ungkapan Belanda yang ia kutip, " Geest wil daad " , yang berarti jiwa menghendaki perbuatan . Bagi saya pribadi, pidato ini terasa lebih dari sekadar orasi akademik ia adalah seruan jiwa, ajakan tulus dari seorang pemimpin kepada bangsanya untuk tidak berhenti hanya pada pemikiran, tapi bergerak, bertindak, mengamalkan. Bung Karno ingin menyampaikan bahwa ilmu, setinggi apa pun, akan hampa jika tidak dijalankan; sementara tindakan, sekeras apa pun, bisa kehilangan arah jika tidak disertai dengan pengetahuan yang terang. Dalam pidatonya, ia seperti menantang para sarjana dan kaum intelektual Indonesia untuk tidak hanya nyaman di ruang-ruang teori dan konsep, tetapi harus turun ke tengah masyarakat, m...

Selamat Kepada Andika Ramadhan atas Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) dari Universitas Negeri Jakarta

Image
Andika Ramadhan bersama Arsyilla Zevania Arifin Kepada Abang Tersayang, Andika Ramadhan, S.Pd. Hari ini, 8 Oktober 2025, jadi salah satu hari paling membahagiakan buat kami sekeluarga. Melihat abang pakai toga, tersenyum penuh bangga di hari wisuda, rasanya seperti mimpi yang jadi nyata. Kami tahu betul, perjalanan abang selama ini tidak mudah begitu banyak rintangan, lembur mengerjakan tugas, sakit hingga koma, perjuangan menyelesaikan skripsi, dan segala tantangan yang abang hadapi dengan sabar dan penuh tanggung jawab. Setiap langkah yang abang tempuh di bangku kuliah mulai dari mata kuliah yang padat, tugas yang bertumpuk, hingga skripsi yang menguras tenaga dan pikiran semuanya kini terbayar lunas dengan satu gelar yang luar biasa,  Sarjana Pendidikan dari Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta . Siva Aprilia & Adinda Putri Aprilia,  dua adik perempuanmu ...

Gladi Bersih Wisuda Universitas Negeri Jakarta Semester 122 Tahun 2025

Image
GOR UNJ GOR UNJ Andika Ramadhan, Siva Aprilia, dan Adinda Putri Aprilia Andika Ramadhan, Siva Aprilia, dan Adinda Putri Aprilia

Jika Sekolah Roboh, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Image
  Jika Sekolah Roboh: Siapa yang Harus Bertanggung Jawab? Ketika bangunan sekolah runtuh menelan korban jiwa atau luka-luka, atau sekadar mengancam keselamatan murid dan guru, pertanyaan pertama yang muncul di benak publik adalah "siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah pemerintah (pusat atau daerah) yang punya kewenangan pengelolaan pendidikan, atau yayasan/penyelenggara yang membangun dan mengoperasikan sekolah secara mandiri?" Ini bukan soal birokrasi semata; ini soal keadilan bagi korban, pencegahan agar tragedi tidak terulang, dan tata kelola publik yang sehat. Multi-aktor, bukan tunggal Secara prinsip, tanggung jawab atas keamanan bangunan sekolah adalah kolektif. Ada beberapa pihak yang berperan dan bisa dimintai pertanggungjawaban: pemerintah (Kementerian dan/atau pemerintah daerah), penyelenggara pendidikan (seperti yayasan), pemilik dan/atau pengguna gedung, serta pihak kontraktor/arsitek yang merancang dan membangun. Tidak ada satu pihak yang otomatis “bebas” h...