Guru Hebat, Tapi Tak Peka (Ketika Masalah Mental Siswa Dianggap Tidak Pernah Ada)


Di banyak sekolah, kita sering mendengar kalimat seperti, “Anak itu cuma kurang disiplin,” atau “Dia terlalu manja, makanya gampang stres.” Kalimat-kalimat seperti itu terdengar sederhana, tapi sesungguhnya mencerminkan betapa dangkalnya pemahaman sebagian guru terhadap isu kesehatan mental. Mereka mungkin hebat dalam mengajar rumus, menjelaskan teori, atau menegakkan disiplin, tapi tidak semua hebat dalam memahami sisi manusiawi dari seorang anak didik.

Sekolah sering disebut sebagai “rumah kedua”, namun bagi sebagian siswa, justru menjadi tempat penuh tekanan. Tekanan dari nilai, ekspektasi guru, tuntutan orang tua, hingga perundungan dari teman sebaya. Ironisnya, banyak guru yang masih memandang masalah mental siswa sebagai bentuk pembangkangan, bukan panggilan untuk dipahami. Siswa yang murung dianggap pemalas. Siswa yang tidak fokus disebut tak punya niat belajar. Siswa yang menangis di kelas dianggap lemah. Padahal, bisa jadi ia sedang berjuang melawan kecemasan yang tak terlihat.

Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana seorang teman dipanggil ke ruang guru karena terlihat tidak fokus belajar. Ia sedang mengalami tekanan hebat di rumah, tetapi yang ia dapat hanyalah ceramah panjang tentang kurangnya tanggung jawab. Hari itu saya menyadari, tidak semua luka tampak di mata, dan tidak semua orang dewasa siap untuk melihat lebih dalam.

Kita terlalu sering menyanjung guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, tapi jarang bertanya apakah pahlawan itu benar-benar memahami penderitaan muridnya. Guru sejati, sebagaimana dikatakan Ki Hadjar Dewantara, “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” yang berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan. Namun bagaimana seorang guru bisa “mangun karso” jika ia tidak peka terhadap keresahan batin siswa?

Dalam pandangan Paulo Freire, pendidikan seharusnya membebaskan manusia, bukan menindasnya. Melalui bukunya Pedagogy of the Oppressed (1970), Freire menegaskan bahwa pendidikan yang menindas terjadi ketika guru memperlakukan siswa hanya sebagai “wadah kosong” yang harus diisi. Jika pendekatan ini masih dipertahankan, maka empati akan mati, dan dialog kemanusiaan di ruang kelas akan hilang.

Masalahnya bukan sekadar guru yang tidak peduli, tetapi sistem pendidikan yang tidak menyiapkan guru untuk peduli. Program pendidikan calon guru masih terlalu menitikberatkan pada kemampuan mengajar, bukan kemampuan memahami psikologi anak. Guru diajari membuat RPP, tapi jarang diajari membaca tanda-tanda depresi atau burnout pada murid. Mereka dibebani administrasi, bukan dilatih berempati.

Sementara itu, siswa semakin terjebak dalam perlombaan nilai. Mereka diajarkan untuk tidak boleh gagal, tidak boleh salah, harus kuat, harus sempurna. Dari luar tampak berprestasi, tapi di dalam banyak yang hancur. Dan ketika mereka akhirnya goyah, sekolah sering kali datang terlambat atau bahkan tidak datang sama sekali.

Kita perlu jujur, sebagian guru memang hebat secara intelektual, tapi kehilangan kepekaan emosional. Padahal, sebagaimana dikatakan Nel Noddings, seorang filsuf pendidikan kontemporer, “Caring is the foundation of moral education.” Tanpa kepedulian, pendidikan kehilangan maknanya sebagai proses memanusiakan manusia.

Sudah saatnya kita berhenti menganggap isu kesehatan mental sebagai urusan pribadi siswa. Sekolah dan guru harus menjadi bagian dari sistem dukungan, bukan sumber tekanan tambahan. Karena menjadi guru bukan hanya soal mengajar dengan cerdas, tetapi juga hadir dengan hati yang peka.

Guru yang hebat bisa melahirkan murid berprestasi. Tapi guru yang peka bisa menyelamatkan sebuah kehidupan.

Comments

Popular posts from this blog

Bunuh Diri Bukan Lemah, Tapi Bukti Betapa Kejamnya Dunia

TITIK JENUH!

Korelasi Keimanan Seseorang terhadap Penyakit Mental (Mental Illness)