Korelasi Keimanan Seseorang terhadap Penyakit Mental (Mental Illness)



Dalam wacana publik, sering muncul pandangan bahwa penyakit mental erat kaitannya dengan lemahnya iman atau kurangnya kedekatan seseorang kepada Tuhan. Klaim semacam ini terdengar meyakinkan di telinga sebagian kalangan religius, tetapi jika ditelaah secara kritis, pandangan tersebut justru keliru dan berbahaya. Penyakit mental adalah fenomena kompleks yang melibatkan faktor biologis, psikologis, dan sosial, bukan sekadar ukuran keimanan seseorang. Menganggap depresi, kecemasan, atau skizofrenia sebagai akibat dari “kurang iman” sama saja dengan mereduksi kompleksitas ilmu kesehatan jiwa menjadi penilaian moral yang sempit.

Opini blog ini mencoba menolak klaim bahwa iman atau religiusitas secara langsung mencegah atau menyembuhkan penyakit mental, dan menyorot bahaya sikap agama yang fanatik terhadap orang dengan gangguan mental.


Argumen dan Bukti Ilmiah

Berikut beberapa poin yang mendukung bahwa keimanan bukanlah faktor kausal utama, bahkan dalam banyak kasus tidak terkait secara signifikan, dalam penyakit mental:

  1. Ketidakberhubungan signifikan antara keimanan religius dengan kepatuhan pengobatan pada pasien mental: Sebuah studi terhadap 255 pasien dengan diagnosis gangguan mental menunjukkan bahwa meskipun ada variasi keimanan, tidak ditemukan korelasi signifikan antara tingkat religiusitas dan kepatuhan terhadap pengobatan (Kavak Budak et al., 2021).
  2. Fundamentalisme agama dan stigma terhadap penyakit mental: Penelitian “Relationship of Christian Beliefs to Attitudes Toward People With Mental Illness” menunjukkan bahwa fundamentalisme (religiusitas yang kaku) berkorelasi dengan sikap yang lebih negatif terhadap orang dengan penyakit mental seperti skizofrenia (Adams et al., 2018).
  3. Religious framing yang mengabaikan aspek psikologis/biologis dari penyakit mental: Dalam studi “His Main Problem Was Not Being in a Relationship With God”: Perceptions of Depression, Help-Seeking, and Treatment in Evangelical Christianity", para partisipan dalam komunitas Kristen Evangelik Inggris sering melihat depresi sebagai akibat dari kegagalan spiritual, bukan sebagai kondisi yang kompleks yang melibatkan biologi, psikologi, sosial (Lloyd et al., 2022).
  4. Resensi literatur menunjukkan bahwa dalam banyak penelitian, religiusitas kadang memiliki efek positif, kadang netral, kadang juga negatif: Ada meta-analisis dan banyak studi yang menemukan efek protektif religiusitas terhadap depresi, kecemasan, stres, dll. Namun, hasilnya tidak seragam. Beberapa studi tidak menemukan hubungan signifikan (Papaleontiou-Louca, 2024). Ada perbedaan besar tergantung bagaimana “keimanan” diukur (praktek ritual, kepercayaan pribadi, partisipasi komunitas, cara coping religius, citra Tuhan, dsb.) (Papaleontiou - Louca, 2021; Papaleontiou-Louca, 2024).
Badan Opini
Mengaitkan kesehatan mental secara tunggal dengan keimanan bukan hanya tidak ilmiah, tetapi juga berpotensi menciptakan luka sosial. Orang dengan depresi bisa merasa bersalah dua kali lipat, menderita karena penyakitnya, sekaligus dihakimi sebagai “lemah iman”. Padahal, iman sejatinya bisa berfungsi sebagai sumber kekuatan psikologis dan dukungan sosial, tetapi bukan pengganti terapi medis. Standar ilmiah kesehatan jiwa tetap berpegang pada model biopsikososial bahwa kondisi mental seseorang dipengaruhi faktor biologis, psikologis, dan sosial yang saling berkelindan. Keimanan, jika pun berperan, hanyalah bagian kecil dari aspek psikososial tersebut, bukan faktor tunggal yang menentukan.

Di sinilah pentingnya mengkritik pandangan fanatik yang menyederhanakan penyakit mental menjadi soal dosa atau ibadah. Pandangan semacam itu tidak mencerminkan kasih atau empati yang diajarkan banyak agama, melainkan hanya memperluas stigma. Yang dibutuhkan oleh penderita gangguan mental adalah dukungan, pemahaman, dan akses pada layanan kesehatan profesional bukan penghakiman.

Referensi

Adams, K. S., Tost, J. R., Whatley, M. A., Brown, M. C., Dochney, B. J., Taylor, J. M., & Neal, M. H. (2018). Relationship of Christian Beliefs to Attitudes Toward People With Mental Illness. American Journal of Psychotherapy, 71(3), 104–109. https://doi.org/10.1176/appi.psychotherapy.20180022


Kavak Budak, F., Gültekin, A., & Özdemir, A. A. (2021). The Association Between Religious Belief and Treatment Adherence Among Those with Mental Illnesses. Journal of Religion and Health, 60(4). https://doi.org/10.1007/s10943-021-01251


Lloyd, C. E. M., Mengistu, B. S., & Reid, G. (2022). “His Main Problem Was Not Being in a Relationship With God”: Perceptions of Depression, Help-Seeking, and Treatment in Evangelical Christianity. Frontiers in Psychology, 13(13). https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.831534


Papaleontiou - Louca, E. (2021). Effects of Religion and Faith on Mental Health. New Ideas in Psychology, 60(100833), 100833. https://doi.org/10.1016/j.newideapsych.2020.100833


Papaleontiou-Louca, E. (2024). Religiosity: Is It Mainly Linked to Mental Health or to Psychopathology? Religions, 15(7), 811. https://doi.org/10.3390/rel15070811

Comments

Popular posts from this blog

Bunuh Diri Bukan Lemah, Tapi Bukti Betapa Kejamnya Dunia

TITIK JENUH!