Didiklah Anakmu Sesuai dengan Zamannya!
Perkataan Ali bin Abi Thalib r.a. tentang mendidik anak sesuai dengan zamannya,
Addibū aulādakum lizamānin ghayri zamānikum
Ungkapan ini sering dijadikan dasar refleksi dalam dunia pendidikan dan parenting Islam. Pesan utamanya adalah bahwa metode, pendekatan, dan cara kita mendidik harus menyesuaikan dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai moral dan spiritual yang diajarkan agama.
Kadang, aku tersenyum kecil setiap kali mendengar orang tua berkata, “Zaman dulu kami nggak begini, kok anak sekarang manja sekali.” Ucapan itu terdengar akrab di telinga, tapi jujur saja, setiap kali mendengarnya, aku merasa ada yang kurang pas. Sebab dunia yang kita tempati kini sudah jauh berbeda dari dunia ketika orang tua kita tumbuh. Anak-anak kita lahir di era serba cepat, serba digital, dan serba terbuka, mereka menyerap informasi lebih banyak dari layar ketimbang dari buku. Jadi wajar kalau cara berpikir, cara belajar, bahkan cara mereka berproses juga tak lagi sama seperti dulu.
Aku ingat dulu, waktu kecil, belajar artinya duduk manis, mendengarkan, lalu menghafal. Tapi sekarang, anak-anak justru belajar lewat eksperimen, diskusi, dan rasa ingin tahu yang luar biasa. Mereka bukan tak hormat, bukan pula pembangkang mereka hanya tumbuh di dunia yang menuntut mereka berpikir kritis dan berani bertanya. Dan di sinilah tantangan kita sebagai orang tua atau calon pendidik: bagaimana membimbing tanpa memaksa mereka menjadi versi kecil dari diri kita.
Terkadang aku berpikir, mungkin mendidik anak di zaman ini bukan soal memberi tahu apa yang harus mereka lakukan, tapi menemani mereka memahami kenapa sesuatu penting untuk dilakukan. Anak bukan kertas kosong yang harus kita gambar sesuai selera, melainkan benih yang tumbuh sesuai lingkungan yang kita ciptakan. Kita bisa menjadi tanah yang subur, tapi biarkan mereka tumbuh dengan bentuk dan warna yang unik.
Dunia mereka berbeda, tapi kasih sayang, nilai, dan teladan masih menjadi bahasa yang universal. Kita tak bisa menuntut mereka hidup seperti masa kita dulu, tapi kita bisa menuntun mereka untuk tetap punya arah di tengah derasnya arus zaman.
Kadang aku membayangkan, jika suatu hari aku menjadi orang tua, aku ingin belajar mendengar lebih banyak, dan menasihati lebih sedikit. Aku ingin jadi tempat pulang yang aman, bukan penguasa yang ditakuti. Karena sejatinya, mendidik anak sesuai zamannya bukan berarti menuruti segalanya, tapi memahami bahwa cinta dan pengertian tetap bisa menjadi jembatan antara generasi yang berbeda.
.png)
Comments
Post a Comment