Pembantian di Palestina: Menembus Batas Agama


Palestina selalu menjadi luka terbuka dalam sejarah dunia modern. Namun yang sering terlupakan, persoalan Palestina bukan sekadar isu agama atau konflik teologis, melainkan persoalan kemanusiaan, hak asasi manusia, dan harga diri sebuah bangsa yang dirampas di depan mata dunia.

Mereka yang lahir di tanah Palestina tumbuh dengan realitas pahit: rumah dihancurkan, akses pendidikan terhalang, dan hak hidup yang paling dasar direbut begitu saja. Bayangkan, generasi demi generasi dipaksa untuk hidup di pengungsian, di balik tembok-tembok tinggi, dan di bawah deru pesawat tempur yang tak henti-hentinya. Apakah ini hanya masalah agama? Tentu tidak. Ini adalah pelanggaran kemanusiaan yang paling nyata.


Hak asasi manusia seharusnya berlaku universal. Deklarasi Universal HAM menegaskan setiap manusia berhak atas kebebasan, keamanan, dan martabat. Namun mengapa dunia seakan tutup mata ketika hak-hak itu diinjak di Palestina? Di sinilah letak ujian peradaban kita: apakah kita masih mampu berdiri di atas nilai keadilan, atau kita akan membiarkan standar ganda terus melukai hati umat manusia.


Perjuangan Palestina adalah perjuangan mempertahankan marwah suatu bangsa. Tanah, rumah, dan sejarah mereka adalah bagian dari identitas yang tak bisa dihapus dengan kekerasan atau propaganda. Menolak keadilan untuk Palestina sama dengan membiarkan sebuah bangsa dihapus dari peta kemanusiaan.


Oleh karena itu, membela Palestina bukanlah monopoli agama tertentu. Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, atau bahkan mereka yang tak beragama, semua bisa dan seharusnya berdiri untuk Palestina, karena ini soal nurani. Soal apakah kita masih percaya bahwa manusia berhak hidup dengan damai dan bermartabat.


Tokoh-tokoh dunia pun pernah menegaskan hal ini. Nelson Mandela berkata, “Kita sangat tahu bahwa kebebasan kita tak lengkap tanpa kebebasan bangsa Palestina.” (Pidato International Day of Solidarity with the Palestinian People, Pretoria, 4 Desember 1997). Desmond Tutu menegaskan, “Jika kamu bersikap netral dalam menghadapi ketidakadilan, kamu telah memilih berpihak pada penindas.” (Oxford Reference, sebelum 1986).


Dari dunia pemikiran Barat, Edward Said menulis, “Orang Palestina berhak atas hak asasi dasar sama seperti manusia lain di mana pun.” (The Politics of Dispossession: The Struggle for Palestinian Self-Determination, 1994).


Palestina adalah cermin bagi dunia, sejauh mana kita benar-benar menghormati kemanusiaan. Jika kita gagal memperjuangkan keadilan di sana, maka kita sedang membiarkan peradaban kita sendiri runtuh.

Comments

Popular posts from this blog

Bunuh Diri Bukan Lemah, Tapi Bukti Betapa Kejamnya Dunia

TITIK JENUH!

Korelasi Keimanan Seseorang terhadap Penyakit Mental (Mental Illness)